MASIGNCLEAN101

Makalah Sosiologi "Fenomena Sosial Pengemis Dan Anak Jalanan Di Kota X"

Assalamualaikum wr wb
hay agan agan ...
ini pertama kalinya saya membuat sebuah makalah untuk syarat kelulusan, daripada njamur di storage mending share aja barangkali bermanfaat...
mungkin rada acak acakan gitu di bagian daftar isi.... 
Gak pp dah yg penting isinya bukan covernya..
Okeeh

Namanya juga baru pertama kalinya...
Ini juga saya simpulin dari berbagai sumber di internet...
saya copas copas aja ya agak dirubah2 sedikit sih ....
Orang kata gurunya aja boleh cari di internet wkwkwkkwkkw....
langsung aja dah tuh ....





1
DAFTAR ISI
1. JUDUL MAKALAH
2. LEMBAR PENGESAHAN...........................................................................     i
3. KATA PENGANTAR..............................................................................     ii
4.DAFTAR ISI.................................................................................................     1
5. BAB I.............................................................................................................     2
          PENDAHULUAN...................................................................................     2
          A.1 latar belakang pemikiran..........................................................................     2
            A.2 Rumusan masalah...................................................................................     4
            A.3 Tujuan..................................................................................................     4
6. BAB II............................................................................................................     5
          ISI............................................................................................................     5
            B.1 Pengertian pengemis ..............................................................................     5
            B.!.1 Pengemis sebagai tindakan sosial............................................................    5
            B.1.2 Pengemis sebagai tundakan ekonomi......................................................     5
            B.2 Pengertian penanganan...........................................................................     6
            B.3 Faktor timbulnya pengemis dan anak jalanan.............................................     6
7.BAB III...........................................................................................................    7
          PENYELESAIAN MASALAH..............................................................    7   
            C.1 Faktor keberadaan pengemis dan anak jalanan............................................    7
            C.2    Penanggulangan Pengemis dan anak jalanan.......................................    8
            C.2.1    Usaha preventif..........................................................................    8
            C.2.2   Usaha Represif............................................................................    9
            C.2.3   Usaha Rehabilitatif.....................................................................     9
8. BAB IV...........................................................................................................   10
          PENUTUP................................................................................................   10
            D.1 Kesimpulan...........................................................................................   10
            D.2 Saran...................................................................................................    11
            DAFTAR PUSTAKA.............................................................................    12
            LAMPIRAN...........................................................................................    13
           


2
BAB 1
PENDAHULUAN
A.1  Latar belakang pemikiran
Pada awalnya malun alun merupakan halaman depan rumah, namun dalam ukuran yang lebih besar. Lebih jauh Thomas Nix menjelaskan bahwa alun alun merupakan lahan terbuka dan terbentuk dengan membuat jaraj antara bangunan-bangunan gedung.
Jadi bangunan gedung merupakan titik awal dan hal yang utama bagi terbentuknya alun-alun.tetapi kalau adanya lahan terbuka yang di biarkan tersisa dan berupa alun-alun, hal demikian bukan merupakan alun-alun yang sebenarnya jadi alun alun-alun bisa desa, kecamtan, kota maupun pusat kabupaten.

      Tetapi Dalam aktifitas sehari sehari kita sering melihat di alun-alun ada pengemis atau anak jalanan. Adapun sebutan yang di pakai, semua lalu lalang di jalanan itu merujuk pada orang-orang yang lalu lalang di jalanan untuk mencari sesuap nasi.
Pengemis merupakan masalah social yang akut yang menjadi masalah social baik itu di kota maupun di kota-kecil.
Hal ini karena kemiskinan yang menjadi penyebab adanyaa pengemis di jalanan, alun alun atau pun di perkotaan yang belum berhasil di tuntaskan hingga ke akar-akarnya.
Berbagai variaber fundamental yang mempengaruhi peingkatan jumlah pengemis di perkotaan seperti kemiskinan,ledakan urbanisasi karena ketimpangan pembangunan kota dengan desa, kualitas sumber daya manusia yang rendah, angkatan kerja yang tidak terampil, keterbatasan daya serap angkatan kerja di sector formal, tingginya angka putus sekolah pada tingkat sekolah dasar, dan etos kerja yang rendah, belum bias di atasi. Sehingga pengemis terus saja meningkat dan merupakan fenomena kemiskinan kota.

Penanggulangnan masalah pengemis menjadi tanggung jawab Negara. Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 mengamanatkan bahwa “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Sementara itu pasal34 aya2 menegaskan “Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat yang lemah dan tidak mampu sesuai martabat kemanusiaan”.
Berdasarkan pasal 34 ayat 1 dan 2 UUD 1945 dan UU nomor 6 tahun 1975 tentang ketentuan-ketentuan pokok kesejahteraan social, peraturan pemerintah republic Indonesia nomor 31 tahun 1980 tentang penanggulangn gelandang dan pngemis pada bagian pertimbangan menyatakan: a) bahwa geandangan dan pengemis tidak sesuai dengan norma kehidupan bangsa Indonesia berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945 karena itu perlu diadakan usaha-usaha penangguanganya. b) bahwa usaha penanggulangan tersebut, disamping usaha-usaha pencegahan timbulnya gelandang atau pengemis, bertujuan pula untuk memberikan rehabilitas kepadda gelandangan dan pengemis agar mampu mencapai taraf hidup kehidupan, dan penghidupan yang layak sebagai warga Negara republik indonesia
3

Adapun juga fenomena merebaknya anak anak yang menjadi pengemis bisa juga anak jalanan di indonesia merupakan persoalan sosial yang komplek. Hidup menjadi anak jlanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada dalam kondisi yang tidak bermasa depan yang jelas, dan keberadaan mereka tidak jarang menjadi “masalah” bagi banyak pihak, kleluarga, masyarakat dan negara. Namun, perhatian terhadap nasib anak jalanan tampaknya belum begitu besar dan solutif. Padahal mereka adalah saudara saudara kita. Mereka adalah amanah allah yang harus dilindungi, dijamin hak-haknya, sehingga tumbuh kembang menjadi manusia dewasa yang bermanfaat, beradab dan bermasa depan cerah.
    Hidup menjadi anak jalanan bukanlah pilihan hidup yang diinginkan oleh siapapun. Melainkan keterpaksaan yang harus mereka terima karena sebab-sebab tertentu. Anak jalanan bagaimanapun telah menjadi fenomena yang menuntut perhatian kita semua. Secara psikologis mereka adalah anak-anak yang pada taraf tertentu berlum punya bentukan mental emosional yang kokoh, sementara pada saat mereka harus bertengkar dengan dunia jalanan yang keras cenderung berpengaruh negatif bagi perkembangan dan pembentukan kepribadiannya padahan tidak dapat di pungkiri mereka itu adalah generasi penerus bangsa untuk masa mendatang.






















4
A.2  Rumusan masalah
Berdasarkan masaah yang di kemukakan di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.   Siapakah pengemis dan anak jalanan itu ?
2.  Apa latar belakang timbulnya pengemis dan anak jalanan ?
3.  Bagaimana alternatif menangani masalah tersebut ?

A.3   Tujuan
            Makalah ini disusun dengan tujuan:
1.      Mengetahui siapakah pengemis
2.      Mengeahui latar belakang timbulnya pengemis dan anak jalanan
3.      Mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan fenomena muncunya pengemis dan anak jalanan
4.      Mengetahui dampak psikoogis yang dirasakan  anak jalanan
5.      Memberikan informasi upaya penanganan anak jalanan secara efektif























5
BAB II
ISI
B.1   Pengertian pengemis
            Menurut kamus besar bahasa indonesia. Pengemis adalah orang yang meminta-minta; pengemis.
Berdasarkan uraian tersebut, Pengemis adaah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta, melalui cara dan alasan untuk mengharap belas kasihan dari orang lain. Pengemis bukan berarti orang yang harus di pandang sebelah mata. Keberadaan mereka bukan untuk di salahkan ataupun sibenarkan. Keberadaan mereka menimbulkan kesan serba salah. Menyalahkan mereka bukan tindakan yang benar, tetapi membenarkan keberadaan mereka pun juga bukan tindakan yang benar juga.
adapun pengemis anak-anak atau anak jalanan sebab mereka berada di jalanan memang tidak dapat disamaratakan, dilihat dari semua anak jalanan berada di jalan karena tekanan dari orang tua mereka untuk melanjutkan profesi orang tuanya karena kurangnya kebutuhan pangan bisa juga karena pergaulan, prlarian anak terhadap orang tua yang tidak bertanggung jawab, tekanan orang tua, atau dasar pidihanya sendiri.

B.1.1   Pengemis sebagaii tindakan sosial
            Tinndakan berupa usaha untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang yang dilakukan oleh pengemis itu termasuk tindakan sosial. Sestiap orang memiliki pandangan berbeda terhadap pengemis. Ada yang menganggap pengemis itu tidak pantas dan banyak yang menentangnya dan ada yang menganggap nya sebagai pekerjaan yang tidak berbeda dr pekerjaan yang lainnya, yaitu yang menghasilkan uang.
Tindakan yang di lakukan pengemis merupakan suatu tundakan yang didasarkan rasionalitas diri mereka. Mereka memiliki kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, apalagi mengemis itu tidak membutuhkan modal atau ketrampilan khusus, sehingga dapat di lakukan oleh semua orang hal inilah yang menyebabkan lingkungan yang masyarakatnya berpikir untuk mengemis

B.1.2   Pengemis sebagai tindakan ekonomi   
            Manusia bekerja untuk emenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya masing-masing. Berbagai macam cara yang di gunakan guna kebutuhan tersebut terpenuhi. Salah satu tujuan para pengemis yang ada di alun alun tegal yakni memperoleh pendapatan atau penghasilan dengan menengahgandakan tangan pada orang lain, itu untuk kebutuhan pangan mereka.






6
B.2   Pengertian penanganan
            Penanganan menurut buku pedoman rehabilitas pengemis atau anak jalanan adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan terarah baik oleh pelaksana di Provinsi maupun kabupaen/kota untuk mencegah, merehabilitasi dan memberdayakan. Usaha tersebut menyangkut upaya pencegah, rehabilitas memberdayakan pengemis dan anak jalanan beserta keluarganya. Penanganan pengemis itu meliputi usaha preventif, represif dan rehabilitatif bertujuan agar tidak terjadi pengemis dan mencegah perluasannya. Agar pengemis kebali menjadi anggota masyarakat yang menghayati hrga dri serta mengembalikan taraf hidup mereka.
Penanggulangan pengemis dilakukan berbagai usaha antara lain:
1. Usaha preventif dimaksudkan untuk mencegah timbulnya pengemis dalam masyarakat,yang ditunjukan pada perorangan atau kelompok, usahanya untuk memberikan penyuluhan dan bimbingan sosial, pembinaan, kesempatan kerja atau penngkatan derajat kesehatan.
2. Usaha represif yaitu tindakan penyisiran untuk mengurangi nya bahkan meniadakan pengemis, usahanya razia.
3. Usaha rehabilitas terhadap pengemis meliputi usaha penampungan, penyeleksian, penyantunan dan tindaklanjut.yang berfungsi untuk mereka kembali sebagai warga masyaraat, yang diaksanakan melalui panti sosial.

B.3   Faktor timbulnya pengemis dan anak jalanan
            Sangat beragam faktor yang paling dominan menjadi faktor kondisi sosial ekonomi disamping karena adanya faktor kekurangan pangan, pendidikan pendek, minimnya ketrampilan kerja yang di miliki, dan yang terpenting mereka sangat pasrah dengan nasibnya.
Pengemis anak anak atau anak jalanan pun sama karena kurangnya uang mereka meminta-minta di jalanan untuk kehidupannya. Pada hasil penelitian Hening Budiyawati,dkkmenyebutkan bahwa faktr-faktor yang menyebabkan anak pergi ke jalanan berdasarkan alasan dan penuturan mereka adalah karena kekerasan dalam keluarganya, dorongan mengemis oleh keluarganya, ingin bebas, ingin memiliki uang sendiri, pengaruh dari temanya.











7
BAB III
PENYELESAIAN MASALAH

C.1   Faktor keberadaan pengemis dan anak jalanan
Terdapat kenyataan bahwa pengemis itu tidak hanya hidup di pedesaan saja teapi hidup di perkotaan dan semakin besar tingkat perkembangan di kota maka akan semakin banyak jumlah pengemis dan anak jalanan yang menjadi penerusnya. Adanya pengemis merupakan konsekuensi dari perkembangan kota. Masalah ini juga karena adanya tekanan-tekanan ekonomi dan rasa aman sebagian warga desa dan yang kemudian terpaksa harus mencari tempat yang diduga dapat memberi kesempatan untuk mengemis dan ini juga salah satu potret kemiskinan perkotaan sedangkan pengemis anak-anak juga faktor orang tuanya yang lebih meluas, karena anak itu bergantung kepada orang tuanya ketika anak merasa tertekan maka anak akan merasa tidak nyaman dan lari dari rumah, ketika orang tuanya mengemis dan tidak memperdulikan anaknya maka anak pun akan mengikuti apa yang di lakukan orang tuanya atau pun bisa juga dengan dorongan dari orang tua itu sendiri, bisa juga anak tersebut itu memang benar benar hilang atau lain sebagai nya kemudian disuruh untuk mengemis, dll.
Secara garis besar faktor tersebut dibagi atas faktor internaal dan eksternal. Faktor internal antara lain sifat malas, dapat muncul akibat dari (kemungkinan) pekerjaan yang di dapat tidak sesuai dengan bakat dan keinginannya. Sehingga enggan untuk menekuni pekerjaan yang ada, cacat fisik. Faktor eksternal antara lain ekonomi, geografi, pendidikan, psikologilingkungandan agama. Faktor ekonomi karena keluarga tidak dapat mendapatkan pendapatan dan kekurangan pendapatan.
            Efendi (1993 : 114) Menurut Buku standar pelayaran minimal pelaayanan dan rehabilitas sosial pengemis, ada pula beberapa haal yang mempengaruhi seseorang menjadi pengemis, dapat di uraikan:
a.  Tingginya tingkat kemiskinan
            Kemiskinan menyebabkan orang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar minmal menjangkau pelayanan umum sehingga tidak dapat mengembangkan ehidupan pribadi maupun kehidupan keluarga secara layak.
b.  Rendahnya tingkat pendidikan
            Tingkat pendidikan yang rendah dapat menjadi kendala seseorang untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
c.  Kurangnya kketrampilan kerja
            Kurangnya ketrampilan kerja menyebabkan seseorang tidak dapat memenuhi tuntunan pasar kerja.



8
Ada beberapa faktor budaya yang mempengaruhi seseorang menjadi pengemis, yaitu:
1.  Rendahnya Harga diri pada sekelompok orang, yang mengakibatkan tidak dimilikinya rasa malu untuk meminta-minta
2.  Sikap pasrah pada nasib mereka bahwa emiskinan dan kondisi mereka sebagai pengemis adalah nasib, sehingga tidak ada kemauan untuk melakukan perubahan.
3.  Kebebasan dan kesenangan hidup mereka yang mengemis. Ada suatu kenikmatan tersendiri bagi sebagian besar gelandangan, pengemis dan anak jalanan, karena mereka merasa tidak menjai salah satu mata pencaharian (Dirijen Pelayanan dan Rehabilitas Sosial Despos RI, 2005:7-8)

C.2    Penanggulangan Pengemis dan anak jalanan
usaha yang dilakukan untuk menanggulangi pengemis harus saling mendukung satu sama lainya. Dengan demikian, hasil yang dicapai akan lebih maksimal.

C.2.1    Usaha preventif
            Pertama, “Hilangkan Budaya Mengemis”. Pecahkan budaya mengemis yang elah beraurat akar dikalangkan para pengemis. Ini merupakan pekerjaan yang sangat berat. Apabila budaya ini tidak dihilangkan maka, apapun upaya yang telah dilakukan akan sia-sia saja. Banyak kasus dimana para pengemis yang telah dibawa dan dibina di Dinas Sosialkembali menjadi pengemis di jalanan. Menghilangkan budaya mengemis merupakankunci utama untuk mengatasi persoalan pengemis. Cara memecahkannya, mereka harus dimasukan ke “Motivation Camp” untuk dibina, ditumbuhkan harga diri, kehormatan, kemuliaan diri, jati diri, dan kebanggaan sebagai manusia mulia disisi Tuhan dan manusia lainnya. Dimanakegiatan mengemis itu bukanlahsesuatu yang mulia, tangan diataslah yang lebih mulia. Serta pendekatan agama sangat ditekankan dalam pembinaan motivasi ini.
            Kedua, “Anak-anak pengemis Harus Belajar”. Berikan beasiswa kepada anak pengemis dan tempatkan mereka di asrama yang jauh dari orang tua merekaa, sehingga budaya mengemis orang tua mereka tidak menurun pada mereka dan budaya baru dari lingkungan barulah yang akan tertanam. Ini adalah solusi untuk memotong rantai budaya mengemis yang sudah ditanamkan oleh orang tua mereka, dengan mengajak mengemis.
            Ketiga, “Berantas Kemiskinan Dengan Pendidikan”, atasi kemiskinan yang menjadi penyebab utama timbulnya para pengemis. Masalah kemiskinan harus diatasi dengan cara pemberian pelatihan, pemberdayaan, pembinaan dan peluang untuk berkembang dan maju. Bukan dengan memberi Raskin (Beras untuk orang miskin), BLT (Bantuan Langsung Tunai), BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) kepada para pengemis, karena hal ini hanya menciptakan ketergantungan kepada pemerintah, malas, tidak mandiri, dan lain sebagainya.


9
C.2.2   Usaha Represif
            Pertama “Razia Pengemis Dadakan”. Razia pengemis secara dadakan, untuk dimasukan ke Dinas Sosial agar dapat pembinaan. Hal ini efektif untuk mendapatkan para pengemis yang berkeliaran disepanjang Alun-alun Tegal, karena letak yang dekat dengan lokasi Dinas Sosial.
C.2.3   Usaha Rehabilitatif
            Pertama, “Pelantikan Ketramilan Sesuai Kemampuan Mereka”. Bina dan latih mereka dengan ketrampilan yang sesuai dengan mereka. Berikan fasilitas yang mereka perlukan untuk mengembangkan kreatifitas yang mereka punya. Pelatihan ketrampilan sebaiknya sesuai dengan kemauan, kemampuan, jenis kelamin serta usia. Misal seorang pengemis usia 60 tahun keatas tidak mungkin dibina untuk belajar kemampuan pertukangan atau meubel. Jadi, pelatihan ini di khususkan kepada mereka yang usiannya produktif dan fisiknya mampu. Bagi mereka yang sudah lansia yang fisiknya tidak mampu, dapat dimasukan ke Panti Jompo/Sosial untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Bagi mereka yang sudah lolos uji ketrampilan dan dinyatakan mampu, diberikan surat kontrak bahwa tidak akan mengemis lagi. Dan pelatihan ketrampilan ini tidak hanya sekali saja, namun beberapa kali agar ketrampilan mereka terus berkembang.
            Kedua, “Buka Lapangan Kerja di Desa”. Para pengemis yang sudah mendapatkan pelatihan dan dinyatakan lolos, tidak sekedar diberi sertifikan dan dibiarkan keluar begitu saja, tapi mereka diberikan lapangan pekerjaan. Mereka akan dipulangkan ke daerah atau desa asal mereka masing-masing. Kerawat desa bekerja sama dengan pemerintah daerah (Dinas Sosial) untuk menciptakan lapangnan pekerjaan bagi para pengemis yang telah mendapatkan ketrampilan. Mengapa harus desa asal mereka?. Karena dengan demikian kemungkinan para pengemis mengemis kembali lagi ke Alun-alun Tegal sangatlah tipis. Dan lagi desa merupakan tempat tinggal awal mereka.
            Lapangan oekerjaan yang dibuka seperti meubel, konveksi, bengkel, warung makan atau kantin. Apabila mereka sudah mampu bekerja sendiri, maka mereka dianjurkan membuka lapangan usaha sendiri. Tentunnya masalah modal didapat dari penghasilan mereka yang teah terkumpul, pinjaman koperasi desa atau bantuan pemberdayaan dari Dinas Sosial (Pemerintah daerah).
            Kita sebagai pelajar merupakan anggota masyarakan yang harusnya berperan aktif dalam kegiatan penanggulangn pengemis ini. Seperti mengumpulkan pengemis anak atau anak jalanan untuk diberikan pendidikan serta motivasi agar tetap belajar sehingga dapat keluar dari rantai kemiskinan yang menuntut mereka mengemis. Kita sebagai pelajar dapat ikut berpartisipasi memberikan peatihan dan pembinaan ketrampilan bagi pengemis. Kita sebagai masyarakat juga sangat di anjurkan agar tidak memberikan apapun kepada pengemis, karena memberikan motivasi kepada pengemis untuk terus mengemis.



10
BAB IV
PENUTUP
D.1   Kesimpulan
            Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta, melalui berbagai cara dan alasan untuk mengharap belas kasihan dari orang. Permasalahan pengemis dapat diselesaikan sesuai dengan kondisi dan keadaan peminta-minta, beberapa faktor terjadinya pengemis dan pengemis anak-anak adalah faktor internal yaitu indifidu dan keluarga serta masyarakat, dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktifitas pengemis. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor lainnya:
Faktor internal dan keluarga yang di maksudkan adalah suatu keadaandi dalam diri individu dan keluarga pengemis yang mendorong mereka untu mengemis. Faktor faktor tersebut adaah: (i) Kemiskinan individu dan keluarga: yang mencangkup penguasaan lahan yang terbatas dan tidak produktif, keterbatasan penguasaan aset produktif, keterbatasan penguasaan modal usaha; (ii) umur; (iii) rendahnya tingkat pendidikan formal; (iv) ijin dari orang tua; (v) rendahnya tingkat ketramplan (“life skiil”) untuk kegiatan produktif; (vi00 sikap mental; dan
Faktor-faktor eksternal mencangkup; (i) kondisi hidrologis; (ii)kondisi pertanan; (iii) kondisi prasarana dan sarana fisik; (iv) akses terhadap informasi dan modal usaha; (v) kondisi permisif masyarakat di kota; (vi) kelemaha penanganan pengemis dan anak-anak jalanan
Upaya pengembangan dan peningkatan kualitas generasi bangsa tidak dapat dilepaskan dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan khususnya anak diwarnai dengan upaya pendalaman di bidan pendidikan, kesehatan, keagamaan, budaya, displin, dan ketrampilan kerja. Disisi lain stabilitas nasional adalah gaambaran tentang keadaan yang mantab, stabil dan seimbang dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Anak jalanan atau pengemis akan memperkuat sendi-sendi kesejaheraan social serta stabilitas nasional kita di masa yang akan datang.











11
D.2   Saran
Berdasarkan uraian di atas, masala sosial yang ada di alun-alun Tegal merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya satu lembaga atau instansi tertentu saja. Karena beberapa lembaga dan instansi dapat bekerja sama untuk menyelesaikannya. Selain itu, pada hakikatnya satu instansi buksn berdiri sendiri melainkan saling keterkaitan. Dan masyarakan hendaknya memilikipemahaman untuk ikut berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Penanganan masalah ini di Alun-alun Tegal tidak dapat dilepaskan dari penanganan kemiskinan itu sendiri, terutama jika dilihat dari sudut pandang daerah asal pengemis tersebut. Memang, kemiskinan bukannlah satu-satunya penyebab terjadinya kegiatan tersebut tetapi juga bisa menjadi akar penyebabnya. Oleh karena itu, beberapa alternatif pemecahan masalah yang berkenan dengan penanganan tersebut dapat ditinjau dari dua aspek yaitu : 9i) kondsi di daerah asal; (ii) kondisi diluar daerah asal. Prinsipnya adalah upaya pencegaahan dilakukan didaerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggal desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara mengemis.
Sedangkan di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan (ditempat kota Tegal). Pengemis dan anak jalanan yang beroprasi di tempat tersebut “harus” di tanggulangi atau di tangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi pengemis dikota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.


























12
Daftar Pustaka
1. http://id.wikipedeia.org/wiki/alun-alun
2. Anonimus (1980). “Peraturan pemerintah No. 31/1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan pengemis, jakarta.
3. UUD 1945
4. http://andisuwandirsan.blogspot.com/2015/04/makalah-gelandangan-dan-pengemis.html
5. http://zainalunib.blogspot.com/2012/03/makalah-anak-jalanan.html
6. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Ofline)
7. http://arifrohmansocialworker.blogspot.com/2010/11/program-penanggulangan-gelandangan-pengemis.html


























13
Lampiran
Profil pengemis:
Ada 2 pengemis anak-anak yaitu:
       Nama pengemisnya TON, ia Laki-laki yang berumur 12 tahun anak terakhir mempunyai 2 saudara, ia tinggal di daerah Mahera sekitar ddaerah Laut, bapaknya bernama Rudi sedangkan ibunya bernama Yana, pekerjaan bakpaknya sebagai seorang tukang becak sedangkan ibunya seorang pengemis jalanan,
Ia pernah sekolah SD, ketika naik ke kelas 4, ia berhenti sekolah karena faktor ekonomi.
Alasan ia menjadi seorang pengemis atau anak jalanan ada kemauan sendiri atau ingin membantu orang tua mencari uang dengan menjadi seorang pengemis, Pengemis atau anak jalanan ini tidak mau di foto jadi tidak ada lampiran foto.
       Yang satunya bernama YULI, ia perempuan yang berumur sekitar 7-8 tahun, Ia tinggal di daerah pasar pagi kota Tegal kecamatan Tegal Tumur,
Orang tuanya bernama ibu Laraswati dan bapaknya bernama Toni,
Orang tuanya masih hidup, pekerjaan Bapaknya yaitu bapak Toni sebagai seorang tukang becak, sedangkan ibunya Laraswati tidak mempunyai pekerjaan atau menjadi seorang  pengemis jalanan di alun-alun Tegal
Ia tidak pernah sekolah semenjak ia kecil karena faktor ekonomi orang tuanya.
Karena tidak ada jalan lain, maka ia menjadi seorang pengemis seperti ibunya, ia meminta-minta uang di sepanjang alun-alun Tegal mengikuti ibunya yang menjadi pengemis.
Alasan ia mengemis karena kemauan sendiri atau ingin membantu orang tua, tapi itu tidak tau benar ata salah karena masih kecil.
           



Sekiaaan dari saya yg share ni makalah kerja sekolah...
Baarang kali bikin bingung dll maafnya aja yah....

Wassalamualaikum wr wb ...









Share This :
Yahikko_NR Ismy
Silahkan komentar jika ada yang ditanyakan atau kesan pembaca terhadap artikel di blog ini,

Jangan sia siakan waktu mu hanya untuk spam !